“Bukankah burung pipit
dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun daripadanya yang
dilupakan Allah. Bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu
jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Luk 12:6-7)
Takut. Sebuah perasaan yang paling sering timbul di dalam
hati manusia. Sama halnya dengan jenis perasaan yang lain, takut adalah sebuah
hal yang kompleks dan penuh keberuntungan, karena dia tidak pernah muncul
sendirian. Yah, rasa takut tidak pernah hadir seorang diri, karena biasanya
selalu dibarengi dengan sedikit rasa yang lain, sedikit khawatir, sedikit
cemas, sedikit kalut mungkin juga sedikit bingung. Kombinasi dari kesedikitan rasa-rasa
itu terajut membentuk sebuah pola, ketakutan, yang menakutkan.
Sejatinya seorang manusia tidak ada satupun yang mampu
menghindar dari rasa takut, semua orang pasti pernah dan tak akan luput. Ketika
rasa itu tiba, interpretasi dari setiap pribadi tentu saja berwarna-warni. Yah,
karena setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Beberapa orang terlahir
dengan kemampuan untuk membagi rasa takut itu secara terbuka. Mereka akan
memilih untuk bercerita kepada rekan, kenalan, handai taulan atau bahkan
terang-terangan sehingga menjadi santapan kaum awam. Tetapi beberapa orang
lainnya diberikan anugerah istimewa dari Tuhan untuk menyimpan ketakutan, sebut
saja menyembunyikan. Menekan sang rasa dalam diam, menyelesaikan tanpa harus
menampakkan, berdamai tanpa harus mencari ramai dan menikmati setiap goretannya
sendirian.
Ketakutan hadir seperti lalang di antara gandum. Menyusup
diantara getir-getir kehidupan, menyerap energi dan meracuni atmosfer. Membunuh
perlahan tanpa kata perpisahan. Hanya kau yang pantas memilih. Membunuh setiap kehadirannya, mengizinkanmu
untuk tumbuh dengan lebih baik. Menganggapnya seolah tak ada, tapi hidup
bersamanya, nyata membuatmu tanpa harga. Atau menyerah saja, merangkak turun
dari singgasana, melepaskan jiwa dan mati dalam raga, kalah pada rasa.
Takut adalah kewajaran, karena manusia adalah tempat segala macam
rasa bermuara. Dan takut adalah ujian, dengan ribuan jawaban hasil olahan dari
logika dan aritmatika. Namun takut adalah kesia-siaan, sebuah hal tanpa alasan,
kemungkinan yang mungkin karena ketidakpercayaan. Tidak percaya bahwa setiap rambut kepala kita dapat terhitung semuanya
dan umur panjang ditangan kanan kita sudah ditetapkan.
.sore kece di hari kamis yang manis.
pojoksempitrumahkayu ^.^
.sore kece di hari kamis yang manis.
pojoksempitrumahkayu ^.^
No comments:
Post a Comment