Friday, October 14, 2016

Kamu merasakan takut? Ya, saya juga.

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun daripadanya yang dilupakan Allah. Bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Luk 12:6-7)

Takut. Sebuah perasaan yang paling sering timbul di dalam hati manusia. Sama halnya dengan jenis perasaan yang lain, takut adalah sebuah hal yang kompleks dan penuh keberuntungan, karena dia tidak pernah muncul sendirian. Yah, rasa takut tidak pernah hadir seorang diri, karena biasanya selalu dibarengi dengan sedikit rasa yang lain, sedikit khawatir, sedikit cemas, sedikit kalut mungkin juga sedikit bingung. Kombinasi dari kesedikitan rasa-rasa itu terajut membentuk sebuah pola, ketakutan, yang menakutkan.

Sejatinya seorang manusia tidak ada satupun yang mampu menghindar dari rasa takut, semua orang pasti pernah dan tak akan luput. Ketika rasa itu tiba, interpretasi dari setiap pribadi tentu saja berwarna-warni. Yah, karena setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Beberapa orang terlahir dengan kemampuan untuk membagi rasa takut itu secara terbuka. Mereka akan memilih untuk bercerita kepada rekan, kenalan, handai taulan atau bahkan terang-terangan sehingga menjadi santapan kaum awam. Tetapi beberapa orang lainnya diberikan anugerah istimewa dari Tuhan untuk menyimpan ketakutan, sebut saja menyembunyikan. Menekan sang rasa dalam diam, menyelesaikan tanpa harus menampakkan, berdamai tanpa harus mencari ramai dan menikmati setiap goretannya sendirian.

Ketakutan hadir seperti lalang di antara gandum. Menyusup diantara getir-getir kehidupan, menyerap energi dan meracuni atmosfer. Membunuh perlahan tanpa kata perpisahan. Hanya kau yang pantas memilih.  Membunuh setiap kehadirannya, mengizinkanmu untuk tumbuh dengan lebih baik. Menganggapnya seolah tak ada, tapi hidup bersamanya, nyata membuatmu tanpa harga. Atau menyerah saja, merangkak turun dari singgasana, melepaskan jiwa dan mati dalam raga, kalah pada rasa.

Takut adalah kewajaran, karena manusia adalah tempat segala macam rasa bermuara. Dan takut adalah ujian, dengan ribuan jawaban hasil olahan dari logika dan aritmatika. Namun takut adalah kesia-siaan, sebuah hal tanpa alasan, kemungkinan yang mungkin karena ketidakpercayaan. Tidak percaya bahwa setiap  rambut kepala kita dapat terhitung semuanya dan umur panjang ditangan kanan kita sudah ditetapkan.




.sore kece di hari kamis yang manis.
pojoksempitrumahkayu ^.^

No comments:

Post a Comment